Lompat ke konten

SSpS Provinsi Maria Bunda Allah

JAWA

SEJARAH SINGKAT SSpS PROVINSI JAWA

Pengantar Sejarah

Sekilas Sejarah Kehadiran SSpS di Jawa

Kehadiran SSpS di tanah Jawa merupakan bagian dari perjalanan misi untuk mewartakan kasih Allah melalui pelayanan nyata bagi Gereja dan masyarakat. Berawal dari kedatangan enam suster misionaris di Surabaya pada 3 Mei 1925, karya SSpS perlahan berkembang dari pelayanan kesehatan menuju pendidikan, pastoral, pembinaan, pendampingan orang muda, dan berbagai bentuk pelayanan lainnya. Dalam perjalanan waktu, para suster terus membuka komunitas dan karya di berbagai wilayah, seraya menanggapi kebutuhan zaman dan undangan Gereja. Perjalanan tersebut tidak selalu mudah, terutama ketika menghadapi masa perang dan berbagai perubahan sosial, tetapi semangat misi tetap dilanjutkan. Sejarah ini menjadi kesaksian tentang bagaimana Roh Kudus menuntun langkah para suster dari generasi ke generasi, untuk terus meneruskan cinta Allah dan menghadirkan kasih, pengharapan, serta pelayanan di tengah umat.

Dari Surabaya, 1925, perjalanan itu terus berlanjut dari satu tempat ke tempat lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dalam satu semangat: diutus untuk melayani dan mewartakan kasih Allah.

1. Awal Kehadiran SSpS di Jawa: 1925–1929

Dikaruniai cinta Bapa yang dicurahkan dalam hati oleh Roh Kudus, para Suster SSpS diutus untuk meneruskan cinta kasih Allah sebagaimana Yesus menjalankannya. Semangat inilah yang menggerakkan enam suster pertama—Sr. Felicina, Sr. Jezualda, Sr. Manetta, Sr. Aldegonda, Sr. Sponsaria, dan Sr. Stephaniana—untuk memulai karya misi di tanah Jawa.  Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka tiba di Surabaya pada 3 Mei 1925. Kedatangan ini menjadi awal perjalanan misi SSpS di Jawa. Karya pertama mereka adalah pelayanan di bidang kesehatan di Rumah Sakit RKZ Vereeniging, Jl. Oendaan No. 31, Surabaya. Semangat misi kemudian berkembang. Pada 1927, para suster mulai berkarya di Blitar dalam bidang pendidikan. Selanjutnya, pada 26 Maret 1929, ditetapkan Regio Jawa, dengan Sr. Felicina sebagai Regional pertama.

2.Masa Pertumbuhan Awal: 1930–1942

Karya SSpS terus berkembang ke berbagai tempat. Pada 1935, para suster hadir di Mojokerto untuk pelayanan kesehatan. Tahun 1936, mereka terlibat dalam pelayanan di Klinik Perkebunan Gondang Tapen yang kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu. Pada 1937, para suster membeli rumah peristirahatan di Claket, yang kemudian berkembang menjadi tempat pelayanan pastoral dan rumah retret. Namun, perjalanan misi menghadapi tantangan besar pada 1942, ketika Jepang masuk ke Indonesia. Beberapa suster Belanda diinternir, sementara para suster lainnya harus bersembunyi dan mengalami kekurangan sandang dan pangan bersama masyarakat.

3. Bangkit dan Memperluas Karya: 1950–1967

Setelah masa perang, karya SSpS kembali berkembang. Pada 1950, Regionalat berpindah dari Blitar ke Surabaya, Jl. Jimerto, dan para suster berkarya di Klinik St. Melania. Pada 3 Mei 1952, SSpS membuka karya di Lombok, melayani kesehatan di Klinik St. Antonius yang kemudian berkembang menjadi rumah sakit. Tahun 1954 menjadi masa penting bagi perkembangan komunitas dan karya. Biara St. Maria Batu diberkati dan dirintis klinik bersalin Margi Rahayu. Pada tahun yang sama, para suster semakin mengembangkan karya pendidikan melalui SMP Putri St. Agnes. Karya pendidikan kemudian berlanjut melalui SMKK Mater Amabilis, pendirian Biara St. Agnes pada 1965, dan pembangunan SMA St. Agnes. Pada 7 Maret 1967, Regionalat yang baru diberkati dan Sr. Nolandis ditunjuk sebagai Regional. Pada tahun yang sama, karya SSpS juga meluas ke Singaraja, Bali, dalam bidang kesehatan.

4. Penguatan Kehidupan Rohani dan Pendidikan: 1975–1989

Seiring bertambahnya kebutuhan pembinaan rohani dan pendidikan para suster, SSpS mengembangkan berbagai rumah pembinaan.  Pada 31 Maret 1975, Rumah Khalwat Syalom Batu diberkati sebagai tempat yang mendukung kehidupan rohani dan spiritual. Pada 11 April 1989, Biara Roh Suci Yogyakarta diberkati sebagai rumah studi bagi para suster dari berbagai provinsi yang menimba ilmu di Yogyakarta. Pada tahun 1989, SSpS juga mulai membantu pelayanan kerumahtanggaan dan administrasi di Seminari Geovani Sumbersari Malang. Pelayanan ini berlangsung hingga 2012, ketika tugas perutusan tersebut diserahkan kembali kepada Keuskupan Malang.

5. Penguatan Formasi dan Pendampingan Orang Muda: 1991–1998

Memasuki tahun 1990-an, perhatian SSpS semakin berkembang pada bidang formasi dan pendampingan orang muda. Pada 8 Desember 1991, rumah Novisiat SSpS di Batu diberkati. Para novis mulai menempatinya pada 2 Januari 1992. Pada 25 Juli 1992, dibuka komunitas di Resapombo dengan program live in untuk mendampingi orang muda. Selanjutnya, pada 3 Februari 1997, SSpS mengelola Asrama Taman Kartini Kesamben untuk pelayanan pastoral dan pendampingan orang muda serta anak-anak usia sekolah. Karena keterbatasan tenaga, komunitas Kesamben kemudian ditutup pada 2017 dan pengelolaan asrama dikembalikan kepada Gereja. Pada 13 Januari 1998, dibuka rumah postulan baru untuk mendukung pembinaan formasi dasar.

6. Memperluas Jejaring Misi: 2003–2009

Semangat misi terus membawa SSpS ke wilayah-wilayah baru. Pada 15 September 2003, SSpS menandatangani perjanjian dengan Keuskupan Pangkalpinang dan membuka komunitas baru di Pangkalpinang.  Pada 2008, para suster hadir di Blora untuk berkarya dalam bidang pendidikan dan pastoral. Kemudian, pada 31 Agustus 2009, ditandatangani perjanjian untuk pelayanan di Papua, dan komunitas baru di Kali Bom mulai dibuka.

7. Perkembangan Misi di Papua dan Indonesia Timur: 2010–2019

Pada 2010, karya SSpS di Singaraja mengalami perubahan dari bidang kesehatan ke bidang pendidikan melalui penitipan anak. Pada 2013, karya tersebut berkembang dengan dibukanya playgroup dan TK. Papua, pada 16 April 2012 dibuka Komunitas St. Yosef Waena. Para suster berkarya dalam bidang kesehatan di RS Dian Harapan serta bidang pendidikan melalui Asrama Putra-putri St. Yohanes Rasul Jayapura. Pada 2016, pelayanan diperluas ke Keppi, Keuskupan Agung Merauke. Kemudian pada 12 Juli 2019, komunitas baru di Arso dibuka dan diberkati. Para suster berkarya dalam bidang pastoral.

8. Perjalanan Misi yang Terus Berlanjut

Sejak kedatangan enam suster pertama di Surabaya pada 3 Mei 1925, perjalanan SSpS terus berkembang melalui berbagai bentuk pelayanan: kesehatan, pendidikan, pastoral, pembinaan, pendampingan orang muda, serta pelayanan sosial dan kemanusiaan. Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bagaimana para suster berusaha membaca tanda-tanda zaman dan menjawab kebutuhan Gereja serta masyarakat di berbagai tempat. Semuanya berakar pada satu semangat: meneruskan cinta Allah, menghadirkan kasih, memberikan penghiburan, dan membawa harapan bagi mereka yang dilayani.