Lompat ke konten

Hadir Dan Melayani Di Tengah Luka

  • oleh

PENGALAMAN RELAWAN RKZ SURABAYA DI SIBOLGA

Kegiatan relawan di Sibolga saya jalani pada tanggal 3–13 Januari 2026 bersama salah satu rekan sejawat, dr. Gio (IGD RKZ Surabaya). Kesempatan ini bermula dari permintaan seorang Suster Putri Kasih kepada Sr. Augusta SSpS, terkait kebutuhan dokter yang bersedia diutus sebagai relawan untuk membantu masyarakat terdampak bencana banjir di Sibolga. Tanpa ragu, saya mengajukan diri. Beberapa waktu sebelumnya, saya telah mengikuti berbagai pemberitaan di media sosial mengenai parahnya dampak banjir yang melanda wilayah Sibolga dan sekitarnya. Saat itu, yang terlintas hanyalah rasa prihatin—sebuah keinginan untuk berbuat sesuatu, meski belum tahu bagaimana caranya. Kesempatan ini saya maknai sebagai ruang untuk hadir dan melayani, menjawab panggilan kemanusiaan melalui profesi yang saya jalani.

Perjalanan menuju Sibolga dimulai dari Bandara Juanda Surabaya. Saya dan dr. Gio berangkat bersama Sr. Rita, seorang perawat dari Kongregasi Putri Kasih, Romo Paulus, serta Ibu Antik, perawat dari RS Budi Rahayu Blitar. Setibanya di Sibolga, kami tinggal di Keuskupan Sibolga bersama para relawan lain dan tim Caritas. Dalam pelaksanaan pelayanan, kami juga sesekali mengunjungi camp pengungsian. Untuk kloter kami, tim kesehatan terdiri dari dua dokter dan dua perawat yang bersama-sama melayani masyarakat di berbagai lokasi.

Selama sepuluh hari efektif pelayanan, pemeriksaan kese-hatan dilakukan setiap hari di wilayah yang berbeda-beda, termasuk kunjungan ke sekolah untuk melakukan pemeriksaan kesehat-an bagi anak-anak SD. Kami mendatangi daerah-daerah yang belum terjangkau fasilitas kesehatan. Bersama para suster dan relawan, kami membuka posko kesehatan, memeriksa kondisi warga, serta mendengarkan keluhan  mereka,

bukan hanya keluhan fisik, tetapi juga cerita dan beban hati yang muncul pascabencana. Banyak warga terpaksa menghentikan pengobatan rutinnya akibat banjir, sehingga penyakit kronis menjadi tidak terkontrol. Keterbatasan makanan di pengungsian, yang sebagian besar berupa mi instan dan telur, juga berdampak pada kondisi kesehatan, termasuk keluhan alergi kulit yang tidak kunjung membaik. Selama masa pelayanan tersebut, kurang lebih 600 pasien berhasil kami layani. Bagi saya, ini menjadi pengalaman pertama terjun langsung ke lokasi bencana dan menyaksikan secara nyata bahwa kehadiran tenaga kesehatan sungguh berarti bagi masyarakat.

Pelayanan di Sibolga menghadirkan pembelajaran yang mendalam. Pengalaman ini meneguhkan kembali bahwa ilmu dan kemampuan yang saya miliki bukan hanya untuk dijalani sebagai profesi, tetapi untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Saya berharap kehadiran kami dapat menjadi tanda bahwa masyarakat tidak dilupakan dan tetap diperhatikan, meski berada dalam situasi yang serba terbatas. Bersama Tim Caritas dan Kongregasi Suster Putri Kasih, kami berupaya memberikan pelayanan terbaik yang kami mampu. Meski melelahkan secara fisik, ada kedamaian dan sukacita yang tumbuh dari setiap perjumpaan dan kebersamaan dalam melayani.

Pengalaman ini sejalan dengan semangat RKZ Surabaya sebagai karya Gereja yang berkomitmen menghadirkan pelayanan kesehatan yang holistik dan berbelas kasih bagi semua orang. Semangat Committed 2HELP—Honesty, Empathy, Love, Professionalism tidak hanya menjadi motto, tetapi nyata dihidupi melalui kehadiran, kepedulian, dan pelayanan yang berpusat pada manusia. Dari Sibolga, saya belajar kembali bahwa pelayanan yang tulus, meski sederhana, mampu menjadi pengharapan bagi sesama dan penguatan bagi mereka yang melayani.

dr.Levina Larassanti – Bagian Pengembangan Layanan RS RKZ Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *