Kegiatan Personal Development dilaksanakan selama tiga hari yang dimulai dari tanggal 16-18 April 2026, pada pukul 08.00-15.00. WIB bertempat di aula Beata Yosefa lantai 5 STIKES Katolik St. Vincentius A Paulo Surabaya, yang diikuti oleh mahasiswa dari Program Studi Ilmu Keperawatan dan Program Studi Administrasi Rumah Sakit, dengan total 70 mahasiswa.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas diri, baik secara individu maupun dalam membangun kebersamaan sebagai satu komunitas akademik. Kegiatan ini dipandu oleh dua pemateri yang inspiratif, yaitu Sr. Reinarda, SSpS dan Sr. Odilia, SSpS. Dengan gaya penyampaian yang hangat, komunikatif, dan penuh semangat, keduanya mampu membangun suasana belajar yang aktif dan menyenangkan. Seluruh rangkaian kegiatan dikemas secara interaktif melalui dinamika kelompok dan berbagai permainan (game) yang menarik, sehingga tidak membosankan.
Memasuki hari kedua, mahasiswa diajak untuk mendalami materi tentang Non-violent Communication (komunikasi tanpa kekerasan). Dalam sessi ini, mahasiswa disadarkan akan pentingnya berkomunikasi dengan cara yang empati, jujur, dan tidak menyakiti orang lain. Komunikasi tidak hanya sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikan dengan sikap yang menghargai dalam membangun relasi interpersonal.
Selanjutnya tema yang cukup menantang namun asyik yakni Unity in Diversity atau persatuan dalam keberagaman. Pada bagian ini kami diminta menampilkan budaya dan tradisi khas dari daerah atau suku masing-masing, kelompok dari pulau Jawa membawakan tradisi ”Temu Manten” yang merupakan bagian dari prosesi pernikahan adat Jawa sebagai simbol pertemuan kedua mempelai. Mahasiswa dari NTT menampilkan tradisi ”Semana Santa” yang berasal dari Larantuka, Flores, sebuah tradisi keagamaan yang sarat makna spiritual dan telah menjadi warisan budaya yang khas. Sementara itu, mahasiswa dari Papua mempresentasikan tradisi ”Bakar Batu”, yaitu kegiatan memasak bersama yang melambangkan kebersamaan, rasa syukur, dan persatuan dalam masyarakat. Kelompok dari Bali menampilkan tradisi ”Potong Gigi (Metatah)”, yaitu upacara adat yang dilakukan sebagai simbol seseorang memasuki tahap kedewasaan. Tradisi ini memiliki makna pengendalian diri dari sifat-sifat buruk dalam diri manusia serta sebagai tanda kesiapan individu dalam menjalani kehidupan yang lebih matang, kelompok dari Batak menampilkan tradisi adat yang berkaitan dengan tahap kedewasaan seseorang. Dengan kain ulos yang diselempangkan di bahu seseorang diartikan sebagai simbol berkat, kehormatan, dan kasih sayang dalam budaya Batak. Ulos juga melambangkan harapan agar individu yang memakainya siap menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab dan kedewasaan. Kelompok dari Kalimantan menampilkan kekayaan budaya daerah melalui presentasi tradisi khas, yaitu ”Gawai” dari Kalimantan Barat yang merupakan perayaan syukur atas hasil panen. Selanjutnya ”Iraw” dari Kalimantan Utara sebagai upacara adat yang melambangkan rasa syukur dan kebersamaan masyarakat, serta tarian Sumajau dari suku Murut di Kalimantan Utara yang menggambarkan semangat, kegembiraan, dan kekompakkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagai penutup dari seluruh rangkaian kegiatan Personal Development, seluruh peserta bersama para pemateri mengadakan sesi foto bersama. Momen ini menjadi simbol kebersamaan, kekompakan, serta kenangan indah yang telah dibangun selama tiga hari kegiatan berlangsung. Dengan penuh sukacita, seluruh mahasiswa mengabadikan moment tersebut sebagai tanda kebersamaan dalam proses belajar dan bertumbuh bersama. Semoga semua mahasiswa dapat menerapkan nilai-nilai yang telah dipelajari, baik dalam pengembangan diri maupun dalam kehidupan bersama, sehingga mampu menjadi pribadi yang unggul, profesional, dan memiliki semangat kebersamaan yang tinggi.
Sr. Fransiska Pello, SSpS
