Pada tanggal 15 April 2026, karyawan/ ti Komunitas St. Maria Batu berkumpul di Ruang Pertemuan Biara Santa Maria untuk sejenak berhenti, merefleksikan diri, dan belajar memaknai keberagaman melalui rekoleksi dari pukul. 07.00 – 10.00 WIB dengan mengusung tema “Unity in Diversity” (Bersatu dalam Keberagaman). Rekoleksi ini dipandu oleh narasumber, Sr. Elfrida, SSpS, yang mengajak peserta untuk semakin menyadari makna persatuan di tengah keberagaman yang ada dalam kehidupan kerja sehari-hari. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh karyawan dari berbagai latar belakang, baik usia, bidang kerja, maupun pengalaman.
Acara diawali dengan sesi pembukaan dan pengantar yang menekankan pentingnya membangun sikap saling menghargai dan menerima perbedaan. Dalam pemaparan materi, dinamika kelompok dan syering, peserta diajak untuk melihat bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang dapat menyatukan.
Dalam refleksinya, Sr. Elfrida, SSpS menegaskan:“Keberagaman bukanlah sesuatu yang harus diseragamkan, tetapi harus dirangkul. Justru dalam perbedaan itulah kita menemukan kekuatan untuk saling melengkapi dan bertumbuh bersama.”
Selanjutnya setiap individu diajak untuk melihat kembali pengalaman hidup dan kerja, terutama dalam menyikapi perbedaan dan membangun relasi dengan sesama rekan kerja. Kemudian para peserta diajak untuk berbagi pengalaman tentang dinamika keberagaman di tempat kerja sehubungan dengan tantangan dalam komunikasi hingga pengalaman kerja sama yang memperkaya. Salah satu peserta mengungkapkan :“Melalui rekoleksi ini, saya semakin sadar bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dipersatukan. Saya belajar untuk lebih terbuka dan menghargai rekan kerja.”
Sebagai penutup, seluruh peserta diajak untuk merumuskan komitmen bersama sebagai langkah konkret dalam menghidupi semangat Unity in Diversity. Komitmen tersebut diharapkan dapat diwujudkan dalam sikap sehari-hari, seperti membangun komunikasi yang sehat, saling menghargai, dan menciptakan lingkungan kerja yang harmonis.
Rekoleksi ini menjadi momen berharga bagi seluruh peserta untuk tidak hanya berhenti pada refleksi, tetapi juga melangkah pada perubahan nyata dalam kehidupan kerja. Dengan demikian, keberagaman sungguh menjadi kekuatan yang mempersatukan dalam satu tujuan bersama.
Sr. Elfrida, SSpS
Pada tanggal 17 April 2026, tepat pukul 10.00 WIB para Suster Senior setelah menikmati makan dan minum ringan berkumpul di Ruang Pertemuan Manetta Komunitas Provinsial Surabaya. Sr. Lusia Dwi, SSps dengan setia menemani dan membantu para Suster Senior memasuki Ruang Pertemuan. Rekoleksi ini diikuti oleh 26 Suster Senior dengan serius namun santai.
Rekoleksi sehari para Suster Senior didampingi oleh Sr. Odilia, SSps, dengan tema: MISTERI KERAHIMAN ALLAH. Tepat pukul 10.15 WIB, rekoleksi dibuka dengan ucapan terima kasih kepada Sr. Odilia dan selamat datang bagi para Suster Senior dari komunitas St. Maria-Batu, St. Elisabet-Blitar, oleh Sr. Lusia SSps sebagai pendamping Suster Senior. Dilanjutkan memohon kehadiran Roh Kudus dengan lagu “Roh Kudus Datanglah” kemudian mendoakan Doa Pembuka secara bersama-sama.
Selanjutnya Sr. Odilia mengajukan pertanyaan awal dengan mengatakan: Bagaimana perasaan para Suster? Dari sharing perasaan yang disampaikan oleh para Suster Senior, sebagian besar mengungkapkan “bersyukur” dan “berterimakasih” atas kesempatan untuk mengadakan rekoleksi pada hari ini.
Sr. Odilia menyampaikan pendalaman tema, misteri kerahiman Allah dengan menjelaskan arti kata misteri yakni masih rahasia, penuh teka-teki; sedangkan kata kerahiman dari kata misericordia yang artinya berbelas kasih. Dengan demikian kerahiman berarti “membawa kesengsaraan orang lain ke dalam hati”. Kasih Allah secara tak terbatas dinyatakan untuk menyelamatkan umat manusia melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Hal ini secara khusus dihayati oleh St. Faustina dengan devosi kepada Kerahiman Ilahi.
Selanjutnya kita juga belajar dari St. Arnoldus menekankan kerahiman Allah yang tak terbatas dengan menghayati Yoh 3:16 yang menjadi ayat favoritnya. Kemudian secara khusus Gereja mengajarkan Kerahiman Allah ini melalui Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Dives in Misericordia tahun 1980, intinya wahyu Allah dan pusat dari kehidupan iman kristiani. Kerahiman sebagai sifat Allah yang terbesar dan tertinggi kepada manusia. Allah yang Maharahim mendatangi manusia dalam diri Yesus untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran yang disebabkan oleh dosa.
Selanjutnya dijelaskan juga bahwa Konstitusi SSps Art. 314 mengajarkan kepada kita bahwa Cinta yang kita alami dalam komunitas hendaknya kita teruskan kepada mereka yang dipercayakan kepada kita, hendaknya kita layani dalam kesederhanaan, kesopanan, dan ketulusan hati.
Setelah pemaparan bahan rekoleksi dilanjutkan dengan refleksi pribadi kemudian masing-masing Suster Senior diberi kesempatan untuk mengungkapkan hasil refleksinya. Para Suster Senior merasa bahagia sebagai Suster SSps dan mengalami kerahiman Allah yang konkret di komunitas masing-masing.
Sebagai penutup dari acara rekoleksi sehari Suster Senior ini diadakan foto bersama dan makan siang bersama. Sebagai SSps, kita diundang menjadi agen-agen belas kasih Allah di tengah dunia.
Sr. Susana, SSpS
“Rekonsiliasi: Dari Keterpisahan Menuju Pemulihan”
Setiap bulan, tepatnya pada Sabtu ketiga, para siswa-siswi Asrama St. Theresia Pangkalpinang mengikuti kegiatan rekoleksi bulanan. Kegiatan ini menjadi sarana pembinaan iman dan pembentukan karakter, dengan tema yang disesuaikan kebutuhan para peserta.
Pada tanggal 28 Maret 2026, pukul 15.30 s/d 18.00 WIB diadakan rekoleksi dengan tema yang diangkat dalam rekoleksi ini adalah “Rekonsiliasi: Dari Keterpisahan Menuju Pemulihan”. Tema ini terinspirasi dari kisah Anak yang Hilang (Luk 15:11-32), yang selaras dengan masa prapaskah sebagai waktu pertobatan batin bagi umat Katolik. Melalui kisah ini, peserta diajak memahami bahwa dalam hidup, manusia sering mengalami keterpisahan—baik dari Tuhan, sesama, maupun diri sendiri—namun selalu memiliki kesempatan untuk kembali dan dipulihkan.
Sedangkan tujuan dari kegiatan ini adalah membantu peserta untuk berani menyadari kesalahan, mengambil langkah pertobatan, serta memulihkan hubungan yang rusak. Selain itu, peserta juga diajak untuk menumbuhkan sikap rendah hati, berani mengampuni, serta tidak membiarkan ego merusak relasi. Rekoleksi ini juga mendorong peserta untuk mengambil langkah nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti meminta maaf, memperbaiki hubungan, dan menjadi pembawa damai di lingkungan mereka khususnya di asrama.
Kegiatan rekoleksi ini didampingi oleh Sr. Sebastiana Bei, SSps dan Sr. Elisabeth, SSps, bertempat di ruang makan Asrama St. Theresia, dan diikuti oleh 40 anak dari asrama St. Theresia Pangkalpinang.
Para peserta diajak untuk masuk dalam proses refleksi yang mendalam melalui pemaparan materi, saat hening, serta aktivitas simbolis. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah menuliskan pengalaman luka batin: baik karena disakiti maupun menyakiti orang lain pada kertas berbentuk hati. Nama-nama tersebut kemudian diserahkan kepada Tuhan melalui ritus pembakaran sebagai tanda melepaskan luka, mengampuni, dan mendoakan.
Melalui proses ini, peserta belajar bahwa pengampunan bukan berarti melupakan, melainkan memilih untuk tidak lagi dikuasai oleh luka. Mereka juga diajak menyadari bahwa rekonsiliasi adalah sebuah proses batin yang membutuhkan keberanian, kejujuran, dan keterbukaan terhadap kasih Tuhan yang memulihkan.
Kegiatan ini diakhiri dengan doa bersama sebagai ungkapan penyerahan diri kepada Tuhan. Kemudian pada penutupan acara, seluruh peserta diajak bergandengan tangan, memohon maaf, dan saling mengampuni, termasuk para Suster yang dipercayakan untuk mendampingi mereka selama di asrama. Momen ini menjadi tanda nyata persaudaraan, kerendahan hati, dan semangat untuk memulai kembali dengan hati yang baru.
Dengan demikian, rekoleksi ini menjadi momen penting untuk bertumbuh dalam iman serta mengalami damai yang sejati.
Sr. Sebastiana Bei, SSps
