Salah satu program dalam masa probasi adalah pengalaman live-in bersama umat. Kegiatan ini dilaksanakan di Paroki Joan Don Bosco Sampit, yang berlangsung dari tanggal 1-13 April 2026. Selama live-in, saya tinggal di Stasi Keluarga Kudus Parit Desa, tepatnya di rumah keluarga Bapak Otong dan Ibu Helpi, sebuah keluarga asli Suku Dayak.
Rumah mereka terletak di tepi Sungai Kahayan, menghadirkan suasana yang sederhana namun penuh kehangatan. Keluarga ini terdiri dari bapak dan ibu, nenek, anak dan menantu, serta tiga orang cucu. Kehidupan bersama dalam keluarga ini sangat terasa harmonis, ditandai dengan semangat kebersamaan dan pembagian tugas yang jelas di antara setiap anggota keluarga.
Dalam keseharian, setiap anggota keluarga memiliki peran masing-masing. Ada yang memasak, membersihkan rumah, mencuci piring, hingga mencuci pakaian. Selain itu, keluarga ini juga sangat terbuka terhadap orang lain. Setiap tamu yang datang selalu disambut dengan hangat dan ditawari makanan, minuman, atau sekadar berbincang sambil menikmati kopi atau sirih. Bahasa yang digunakan sehari-hari dalam keluarga ini adalah bahasa Dayak. Selama saya di sana, mereka menggunakan bahasa Indonesia dan untuk berkomunikasi dengan warga yang lanjut usia, saya dibantu warga lain yang bisa berbahasa Indonesia untuk menterjemahkannya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, keluarga ini mengandalkan penghasilan dari warung sederhana, hasil kebun, serta ternak babi. Kesederhanaan hidup mereka tidak mengurangi rasa syukur dan semangat untuk saling berbagi. Secara umum, Desa Parit tempat saya tinggal sebagian besar dihuni oleh masyarakat Suku Dayak. Kehidupan masyarakat di sana masih sangat kental dengan nilai kebersamaan dan tradisi lokal.
Adapun kegiatan pastoral yang saya jalankan meliputi memimpin ibadat Trihari Suci dan Minggu Paskah kedua, mengantar komuni bagi orang sakit dan lanjut usia, memberikan katekese kepada umat, serta mendampingi anak-anak SEKAMI, misdinar, dan Orang Muda Katolik (OMK). Mereka memiliki kerinduan untuk mengenal iman Katolik lebih dalam, namun masih membutuhkan pendampingan dan pembinaan yang berkelanjutan. Salah satu tantangan yang kami temukan adalah adanya kecenderungan sinkretisme, yaitu pencampuran ajaran iman Katolik dengan kepercayaan atau praktik budaya setempat (Kaharingan).
Pengalaman live-in ini memberikan pelajaran yang sangat berharga. Kehadiran di tengah umat juga menjadi kesempatan untuk belajar untuk melayani dengan hati yang terbuka, menghargai budaya lokal, dan setia mendampingi umat dalam perjalanan iman mereka. Dengan demikian pengalaman live-in ini menjadi sebuah ziarah kehadiran yang menjembatani antara apa yang ideal dan realitas iman umat. Sebagai Abdi Roh Kudus (SSpS), saya menyadari bahwa misi dimulai dengan kesediaan untuk “berada bersama” dan membiarkan diri dibentuk oleh lingkungan sekitar. Melalui keterlibatan langsung ini, kami dapat menyapa secara konkret dalam denyut hidup umat yang sederhana.
Sr. Chatarina, SSpS
Probanis
