Pada Minggu, 3 Mei 2026, 8 Suster dari Komunitas Roh Suci mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Paroki Maria Marganingsih Kalasan, yaitu talk show bersama Orang Muda Katolik (OMK). Kegiatan ini dilaksanakan di Stasi St. Ignasius Temanggal dan dihadiri oleh kurang lebih 70 Orang Muda Katolik dari berbagai paroki dan latar belakang. Selain para OMK kegiatan ini juga dihadiri oleh para Suster dan Bruder dari berbagai tarekat dan kongregasi yang ada di Keberlangsungan acara Talk Show paroki St. Maria Marganingsih yaitu SSpS, SFD, SPC, RMI, OP, serta para Bruder CSA.
Tema yang diangkat dalam aksi panggilan ini adalah “Broken but Blessed: Tuhan Tetap Bekerja di Tengah Luka.” Tema tersebut dipilih sebagai ajakan bagi kaum muda untuk menyadari bahwa dalam setiap pengalaman terluka, pergumulan, dan pengalaman hidup yang berat tidak membuat seseorang kehilangan harapan, sebab Tuhan tetap hadir dan berkarya dalam kehidupan manusia. Melalui tema ini, para peserta diajak untuk semakin berani menerima diri, bangkit dari keterpurukan, dan menemukan makna hidup di tengah berbagai tantangan yang dihadapi.
Talk show ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Rm. Jonathan Christian Munthe, SCJ dan Sr. Hedwig Wigiastuti, CB., S.Psi., M.Psi dan seorang moderator yakni saudari Tirza. Kedua narasumber membagikan pengalaman, refleksi iman, pemahaman mengenai kesehatan mental dalam terang iman Katolik. Para peserta diajak untuk memahami bahwa pergumulan batin, rasa kecewa, luka keluarga, tekanan studi maupun pekerjaan merupakan bagian dari perjalanan hidup yang dapat dihadapi bersama Tuhan dan sesama.
Dalam dinamika kegiatan, para peserta dibagi ke dalam enam kelompok diskusi kecil. Dalam kelompok tersebut, mereka diberi kesempatan untuk menceritakan pengalaman pribadi dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang berkaitan dengan kesehatan mental. Suasana syering berlangsung hangat dan penuh keterbukaan karena para peserta merasa diterima dan didengarkan tanpa dihakimi.
Setiap Suster SSpS mendapat tugas sebagai fasilitator dalam kelompok kecil tersebut. Para Suster membantu mengarahkan jalannya diskusi agar dapat berlangsung dengan baik, lancar, dan tetap menciptakan suasana yang aman bagi setiap peserta untuk berbagi cerita maupun pengalaman hidupnya. Kehadiran para fasilitator membantu peserta untuk semakin berani mengungkapkan pergumulan, harapan, serta kekuatan yang mereka miliki dalam menghadapi masalah hidup.
Setelah kegiatan dalam kelompok kecil, seluruh peserta kembali bergabung dalam kelompok besar. Dalam sesi ini, setiap kelompok diberi kesempatan untuk membagikan hasil syering maupun hal-hal penting yang mereka peroleh selama syering di kelompok kecil. Banyak peserta menyampaikan bahwa mereka merasa tidak sendirian dalam menghadapi luka dan persoalan hidup, karena ternyata orang lain juga mengalami pergumulan yang serupa.
Rangkaian kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB dan ditutup dengan sesi foto bersama. Kegiatan ini menorehkan pengalaman yang bermakna bagi para peserta karena tidak hanya memberikan pendampingan iman, tetapi juga menghadirkan ruang yang mendukung pertumbuhan pribadi, kepedulian terhadap kesehatan mental dan penguatan relasi dengan Tuhan dan sesama.
Sr. Paulina Fallo, SSpS
