Hari Raya Pentakosta tahun ini dirayakan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Beberapa hari sebelumnya telah diumumkan kepada umat dan para Suster yang mengikuti Perayaan Ekaristi di kapel Arnoldus untuk mengenakan pakaian adat dari masing-masing daerah, jika tidak punya tidak apa-apa tetap menggunakan pakaian gereja seperti biasa. Para Suster sangat antusias dan gembira mulai dari Suster Senior hingga Suster Yunior mencari aksesoris pakaian adat bahkan menyiapkan pakaian adat.
|
|
Pada hari Raya Pentakosta yang jatuh pada Minggu 24 Mei 2026 pukul 05.45 WIB di kapel Arnoldus Perayaan Ekaristi Hari Raya Pentakosta dimulai. Para Suster yang telah menempati bangku mengenakan aksesoris adat, ada yang mengenakan pakaian adat lengkap; umat, anggota PARK, anggota koor dan anak asrama, lektor, pemazmur, pembaca doa umat, semua mengenakan pakaian adat, ada juga yang datang dengan pakaian yang layak dan pantas untuk Perayaan Ekaristi.
Diawali dengan tarian Burung Merak oleh Sr. Agnes Rina, SSpS yang melambangkan: sukacita, keindahan, dan kehidupan baru yang dianugerahkan Allah melalui Roh Kudus. Burung Merak dikenal sebagai burung yang memancarkan pesona dan keindahan ketika mengembangkan bulunya. Keindahan tersebut menjadi simbol aneka karunia Roh Kudus yang dicurahkan kepada setiap orang beriman untuk membangun Gereja dan melayani sesama. Gerakan-gerakan yang lembut, anggun, dan penuh ekspresi menggambarkan hati manusia yang terbuka untuk menerima kehadiran Roh Kudus. Setelah tarian, Perayaan Ekaristi dibuka dengan lagu pembuka, beberapa Suster bergabung dalam koor bersama anggota asrama Emaus.
Dalam homilinya RP F.X Ketut Trisnoyanto, SVD menyampaikan: “50 hari setelah Paskah ketika para murid dan orang-orang percaya berkumpul di satu tempat, Roh Kudus turun dan tinggal dalam diri mereka sehingga mereka memiliki keberanian untuk keluar dan memberitakan tentang Kerajaan Allah. Banyak orang datang, mendengarkan ajaran para Rasul yang mana terjadi mujizat Pentakosta. Orang mengerti tentang Injil yang diwartakan oleh para Rasul, jika roh jahat menghancurkan maka Roh Kudus menciptakan sesuatu menjadi baru. Inspirasi, kita semua mengenakan pakaian adat dari masing masing budaya, dari bacaan pertama: ada begitu banyak orang berkumpul dari berbagai tempat, mereka bersukacita merayakan Pentakosta. Kita semua berasal dari berbagai budaya, dan siapa yang mempersatukan kita? Yang mempersatukan kita tidak lain Roh Kudus. Semoga Roh Kudus selalu ada di tempat ini, tinggal di dalam hati kita, kita dipenuhi dengan 7 karunia Roh Kudus, seperti para Suster SSpS yang didirikan St. Arnoldus dipersembahkan kepada Roh Penghidup maka para Suster mengabdi kepada Roh Kudus. Pentakosta menjadi salah satu perayaan besar, maka patutlah kita merayakan dengan meriah dan sukacita bersama para Suster SSpS.” Homili pun diakhiri oleh RP. F.X Ketut Trisnoyanto, SVD dan dilanjutkan dengan doa umat.
Tampak ke-7 Suster mengenakan pakaian adat, ada juga yang mengenakan aksesoris adat dengan jubah maju ke depan Altar, menuju ke ambo untuk
mendoakan doa umat secara bergantian dalam berbagai bahasa. Para Suster yang bertugas doa umat antara lain : Sr. Teresa, SSpS mendoakan bagi Gereja dalam Bahasa Jerman. Sr. Mathilde mendoakan bagi para Pemimpin bangsa-bangsa dalam Bahasa Mandarin, Sr. Bernalda mendoakan bagi para Misionaris dalam Bahasa Korea, Sr. Maria mendoakan bagi Kongregasi dalam Bahasa Inggris, Sr. Ignata mendoakan bagi perdamaian dunia dalam Bahasa Bali, Sr. Dolorosa mendoakan mohon panggilan dalam Bahasa Papua, Sr. Rosari mendoakan bagi mereka yang miskin dan menderita dalam Bahasa Jawa, dan yang terakhir Sr. Theresia Ayu mendoakan bagi yang hadir dalam Bahasa Manggarai.
Usai Perayaan Ekaristi, semua umat, para Suster dan RP. Ketut, SVD foto bersama di depan altar. Semua mengalami sukacita atas turunnya Roh Kudus. Para Suster dan anggota PARK melanjutkan dengan sarapan pagi bersama di Komunitas Provinsialat Surabaya.
Sr Elis T. Seran, SSpS
